Minggu, 01 Januari 2017

HIJAB-EU

Annyeonghaseo, Moon Suki Imnida...

Panggil saja namaku Suki. Aku anak gadis dari keluarga Moon, Aku keturunan Korea-Jepang dan yang paling penting aku adalah seorang muslim. Yah, semenjak dua tahun yang lalu kami sekeluarga berniat menjadi mualaf. Dulu kami adalah penganut agama kristiani dan entah kesadaran darimana kami sekeluarga masuk Islam. Aku tinggal di daerah yang dekat dengan masjid besar, setiap hari selalu mendengarkan kumandang azan dari masjid yang begitu indah dilantunkan. Hati ku tenang. Mungkin karena kebiasaan itu kami mulai terbiasa dan akhirnya inilah kami yang baru sebagai mualaf.

Ponselku berbunyi...

'Mama calling..'

Tombol hijau ku tekan.

"Assalammualaikum, ma" Sapa ku kepada mama. Beberapa detik disana diam.

Akhirnya mama menjawab salam ku juga. "Sayang, kau dimana? Sebentar lagi akan senja kenapa belum pulang rumah ?" Mama selalu saja khawatir. Seperti aku ini tidak tahu jalan pulang kerumah saja. Yaa... Aku ini sudah delapan belas tahun hidup di Korea Selatan, Seoul lagi yang notabenennya kota besar.

"Ya bentar lagi ma, aku lagi nunggu bis.....   Ya udah ma, bis nya udah datang aku tutup dulu ma"

"Oke. Cepat pulang. Assalammualaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Panggilannya aku akhiri. Bersiap untuk naik bis dan memilih tempat duduk. Tak sesuai harapan, tempat duduknya penuh. Aku berdiri, mata ku terus saja menelusuri sekitar mana tahu ada kursi kosong yang bisa aku duduk. Tampaknya harapan itu kecil, semuanya penuh. Dan hanya aku yang berdiri sendiri disini, di pandangi dengan tatapan aneh dari penumpang bis, mungkin karena aku memakai hijab. Mereka kan tidak tahu apa itu hijab, makai apalagi.

Baru saja tangan ku ingin memegang pegangan besi di bis, salah satu wanita dewasa dengan setelan kantornya malah menghampiri ku. "Chogiyo, agasshi. Kau bisa memakai tempat duduk ku"

wanita kantoran yang baik hati tadi tersenyum sekilas sebelum keluar dari bis.

"Gamsahamnida" ucap ku senang. Wanita tadi hanya tersenyum ramah dan menunjukkan kalau dia oke dengan jari tangannya.

Tuhan memang baik sama aku hari ini. Ani, Dia selalu baik kepada semua hambanya.

Aku tercenung sesaat. Kursi yang harus ku duduki itu bersebelahan dengan lelaki tampan yang mengenakan almameter sekolah. Mungkin baru saja pulang sekolah.

Lelaki korea itu terus saja menatapku. Aku nya masih diam. Antara ingin bilang permisi saya mau lewat atau menunggu dia peka. Biasalah, aku anak perempuan jarang sekali berbicara dengan yang bukan muhrimnya alias lelaki. Kalau dengan kakek tua renta tetangga sebelah ya...sering sih.

"Kau mau duduk disini ?" Tanya lelaki itu kepada ku. Dia tampan sekali.....rambutnya cokelat kehitaman dengan mata yang yang berkilau. Aku yakin mata ku pasti tidak berkilau seperti itu. Haha...

"Ah....nde. Bisakah kau beri aku ruang ? Aku ingin lewat" Akhirnya aku memberanikan diri. Dia mengangguk sambil tersenyum. Dia berdiri dari tempat duduknya dan menpersilahkan aku masuk dan duduk di kursi dengan nyaman.

Ah, akhirnya. Punggung ku agak sedikit nyaman. Ujar ku lega.

Aku menoleh ke arah lelaki yang tak kukenal namanya. Aku tersenyum, menunduk kepala ku sedikit sebagai rasa hormat dan terimakasih karena telah membantu ku. Dia juga membalas hal yang sama seperti apa yang aku lakukan tadi. Senyumnya itu loh..... Menawan sekali.

Astaghfirullah, aku menggeleng cepat, mataku aku kucek kucek. Aku sudah berani sekali main mata, eh-- bukan apa-apa hanya saja bukan muhrim. Hehe, zina mata istilah lainnya.

"Kau baik-baik saja ?" dia sepertinya khawatir.

Dia memegang lengan atas ku sontak membuat aku terkejut dan menjauh darinya dengan mata melotot seolah aku takut memandangnya , seperti memandang hantu. Dia juga tak kalah terkejut. Mungkin karena gerakan ku yang terbilang lebay sampai harus mepet banget dengan jendela bis seolah aku ini tokek yang tertangkap basah dengan pemburu.

Aku tertawa paksa. "Hehehe...." dia juga malah ikut tertawa sama seperti ku "aku....baik-baik saja. Aku tak terbiasa di sentuh makanya aku jadi kaget seperti ini" Dia terkekeh kemudian mengangguk. Dia pasti mengira aku lucu.

Aku berdehem sebentar, merapikan hijab pasmina ku yang sedikit berantakan. Melalu ekor mata, aku melihat dia masih saja mencuri-curi pandang ke arah ku. Apakah aku cantik ? Yaa jangan ditanya cantik banget malah hehe. Aku malah canggung begini dan kegiatan yang ku lakukan sekarang hanya melihat-lihat galeri foto saja berulang kali. Memang ye kalau canggung seperti ini apalagi disebelahnya ada lelaki tampan mandang kita lagi bawaannya gak tahu mau ngapain.

"Chogiyo" apakah dia berbicara dengan ku ? Aku menoleh.

Dia tersenyum lagi, emang tipe orang pemurah senyum ya. "Ya ?"

"Jeonun Kim Jong In Imnida" dia memperkenalkan dirinya. Oh jadi namanya Jong In ? Marganya kim..

Dia mengulurkan tangannya minta berjabat tangan. Aku langsung saja mengatupkan kedua telapak tanganku di atas dada. Secara tak langsung membuat dia kecewa karena aku tak menerima jabatan tangannya.

"Jeonun Moon Suki imnida" Dia menarik tangannya canggung.

Kentara dalam raut wajahnya yang seperti bingung. Salah satu tangannya membuat gerakan memutar di atas kepala berusaha untuk menunjukkan sesuatu kepada ku. Aku menautkan kedua alis masih belum mengerti dengan isyaratnya. Belum sampai satu menit. Aku pun baru connect.

Dia menunjuk hijab ku ternyata. "Ige...?" dia mengangguk ketika aku memegang hijab pasmina ku dengan warna hijau toska. "Ige hijab-eu" Dia membuat bulatan o di mulutnya. Dia mengangguk paham.

"....keundae, kau tidak boleh memakainya" lanjut ku.

"Waeyo ?"

"Karena kau bukan perempuan"

Jawaban ku tadi mengundang tawa untuknya. Karena tertular mungkin, aku juga ikut tertawa. Dia polos sekali.

                        END

Jumat, 16 Desember 2016

[CHAPTER 1] UNTUK MU

Suki berkali-kali memandang kagum seorang lelaki yang sedang bermain Baseball, gaya main dia sangat keren hingga membuat wanita yang mendominasi tempat duduk di lapangan baseball kampus meneriaki lelaki tampan itu dengan kata-kata penyemangat. Dia adalah Byun Baekhyun. Senior Suki yang berada satu tingkat di atasnya. Entah sejak kapan Suki menyukai Baekhyun itu karena berawal dari kejadian dimana Baekhyun menolongnya, uh kejadian memalukan itu sungguh tak ingin Suki ingat.

FLASHBACK

Ketika itu hampir senja dan Suki masih saja berada dikampus. Niat awalnya untuk mencari buku yang akan ia jadikan bahan refensi untuk tugas makalah di perpustakaan malah terperangkap disana karena disuruh menyusun buku dalam satu rak besar, dan itu cukup membuat Suki yang badannya berisi merasa lelah dan terlambat pulang. Hingga tak sadar hari sudah senja, biasanya jam segitu gerbang kampus akan ditutup. Buru-buru Suki berlari dalam tanda kutip "dengan badan yang berisi"  cukup membuat napasnya ngos-ngosan. Dia harus diet keras kali ini.

Dewa fortuna tidak berpihak padanya. Sial! Pintu gerbangnya malah tertutup.

Suki mengigit jari, salah satu kebiasaan buruk Suki kalau lagi sedang gelisah dan dirundung cemas. Jalan alternatif agar bisa ia melewati gerbang sialan itu adalah dengan memanjatnya saja. Itu tidak mudah! Suki berisi dan kalau disuruh memanjat mungkin 99,99% dirinya akan jatuh seperti karung beras. Ih, itu membuat Suki ngeri.

Tidak salahkan kalau mencobanya, belum mencoba belum tahu.

Suki menyemangatkan diri. Suki mulai berusaha memanjat pagar besi itu, ini sangat tidak mudah. Suki takut ketinggian, kakiknya menggigil dan Suki takut akan jatuh hingga usaha kerasnya daritadi membuahkan hasil. Suki sudah berada di atas pagar besi yang tidak runcing, jadi bisa ia duduki. New a problem...

SUKI TIDAK TAHU CARA TURUNNYA!!

Otte ? (Bagaimana ini?).

"Hei, apa yang kau lakukan disana..?" Suara itu.

Suki mengarahkan kepalanya ke bawah, disana terdapat seorang lelaki yang.....tampan.

"Turunlah, nanti kau akan jatuh"
Lelaki itu melambaikan tangannya memberikan isyarat kepada Suki agar turun. Dari raut wajah lelaki itu sepertinya sangat mencemaskan Suki. Ah, sempat-sempatnya Suki merona.

Suki menggeleng dengan malu ia berkata "Aku tidak bisa turun, sunbae (Senior)". Lelaki itu malah tertawa pelan disana. Sangat imut dan tampan tentunya. Apakah dia akan menolong Suki ? Suki menatap harap pada lelaki yang tak ia kenal itu.

Lelaki yang tak ia kenal tersenyum seperti mengerti akan maksud tatapan Suki. "Oke, aku akan membantu mu, gadis"

YES! memang seharusnya kau seperti itu! Teriak batin Suki senang.

Lelaki itu tampak berfikir, matanya menatap Suki lagi "Bagaimana caranya membuatmu turun ?" Lelaki itu melihat sekelilingnya "....tidak ada tangga yang bisa digunakan"
Suki hanya diam, selagi lelaki itu berfikir sendiri bagaimana membantu dirinya untuk turun, Suki akan memanfaatkan momen ini untuk menikmati pemandangan yang langka. Selama ini tidak ada pria tampan yang mau berbicara dengan Suki. Karena Suki gendut dan tidak cantik.

"Aku tahu!.." Lelaki itu menjentikkan jarinya, ide sudah ada dikepala ".....Salah satu caranya, kau harus lompat dari situ"

It's crazy. Hell, kalau gitu ujung-ujungya jatuh jugak. Suki hanya ingin selamat tanpa dia harus jatuh. "Tenang saja, aku akan menangkapmu" Mata Suki bergerak gelisah "Apa.....tidak apa-apa ? Sunbae tidak lihat kalau aku...." Suki meragu dia malah menatap fisiknya yang tambun takut kalau menatap kembali lelaki itu dia tidak mau menolong Suki. Tapi apa yang Suki lihat adalah senyuman tulus dari seorang pria tampan.

"Jangan khawatir, aku ada disini" dan kalimat barusan bagaikan penyejuk untuk Suki. Suki akhirnya mengangguk, sebelum itu dia menghela napas dan.....

BRUKKH

"Akh, pinggang ku!!"

"SUNBAE 😨"

BACK REALITY

Suki meringis sendiri mengingat kejadian itu. Nanti Suki harus meminta maaf lagi kepada Baekhyun. Suki sedih, disana Baekhyun dengan seorang gadis yang sedang memberikan air minum kepada Baekhyun dan menyeka keringat Baekhyun, dia siapa ? Gadis itu cantik dan langsing tidak seperti Suki. Bagaimana bisa Suki berharap kalau Baekhyun akan menyukainya ? Itu bagaikan mimpi.

SETELAHNYA...

Suki menunggu Baekhyun keluar dari ruang ganti. Dia hanya ingin mengajukan permintaan maaf yang untuk kejadian beberapa minggu yang lalu itu. Dan orang yang ia tunggu akhirnya keluar juga.

"Sunbae" Panggil Suki pelan.

"Oh? Kau yang waktu itu kan ?" Tanya Baekhyun. Baekhyun masih berkeringat, dan itu tampak seksi jika dilihat. Suki mengangguk pelan "Aku hanya ingin.....meminta maaf atas kejadian waktu itu, punggungmu pasti masih sakit" Suki turut menyertakan nada penyesalan disana membuat hati Baekhyun luluh, dia ingin sekali mengenal gadis gendut ini "Memang masih sakit sih, tapi tidak apa-apa jangan khawatir" Suki dan Baekhyun saling tersenyum.

"Ada yang ingin aku____" Ucapan Suki terputus bersamaan sesuatu yang akan ia berikan kepada Baekhyun karena kehadiran seorang gadis, gadis yang tadi.

Pemandangan yang menyakitkan. Mereka bahkan bergandengan tangan dihadapan Suki, tidak tahu kalau perasaan Suki tersakiti. Hei, seharusnya kau sadar siapa kau disini Suki.

"Oh ya, tadi apa yang ingin kau katakan ?"

Suki memaksakan untuk tersenyum, dia menggeleng dan sesuatu yang ia sembunyikan tadi malah ia sembunyikan lebih dalam. Ia merasa minder sekarang, gadis yang merangkul Baekhyun itu menatap tak suka kepada Suki.

"Oppa, ayo kita pergi katanya oppa lapar" Suara manja dari sang gadis, membuat Suki mau muntah kalau bisa muntah di wajah gadis gatal itu. Baekhyun bahkan tersenyum, apakah mereka berdua berpacaran ?

Baekhyun dan gadis yang tak mau Suki kenal berlalu meninggalkan Suki yang sedang sedih menatap sesuatu yang tidak jadi dia berikan kepada Baekhyun, sebuah salep untuk punggung Baekhyun. Suki menghela napas sedih berniat untuk enyah dari sini secepatnya...

.......hingga ia tidak menyadari jika Baekhyun melihat ke belakang, ke arah Suki dengan sesuatu yang berada di genggaman menghela napas sedih.

Mianhe (Maaf)

                        TBC

Kamis, 15 Desember 2016

[CHAPTER 1] HARRY POTTER REBORN (Summer Mackley Granger)

     Summer Mackley Granger

Namanya Summer Mackley Granger alias Summer Granger. Dia dipanggil dengan nama yang merasa kalau dia adalah gadis dari musim panas, Summer. Dia tinggal di kota Inggris tempat kelahirannya. Hidup dengan sederhana bersama nenek dan kakek membuatnya harus mandiri mencari pekerjaan karena kedua orang tua tersebut sudah tak terdaya bekerja lagi. Summer masih menginjak kelas 2 sekolah menengah pertama sedangkan kedua orangtuanya telah meninggal dengan cerita yang terlalu aneh untuk Summer serap. Jujur, dia merindukan mama dan papanya yang telah tiada namun takdir berkata lain untuk kehidupan Summer karena Summer dilahirkan dengan keadaan yatim piatu sama seperti Harry Potter di serial filmnya yang terkenal itu. Bedanya hanya kenyataan dan fiksi. Untuk kesekian kali napas pelan Summer hembuskan, melihat sekelilingnya betapa membosankan tempat ini. Dia sedang berada di perpustakaan tua. Sangat tua. Kisaran berumur 5000 tahun lebih. Itu terlalu tua untuk Summer bisa percaya namun dari yang ia sendiri lihat bahwa perpustakaan ini masih luas dan berdiri dengan kokoh.

Lalu apa yang ia lakukan di sini ? Tentu membaca buku karena sesuai dengan fungsi tempat ini. Summer merasa hari ini dia sangat malas untuk bekerja dari tadi pagi saja hingga sekarang dia belum mau pulang ke rumah. Ketika melihat perpustakaan pinggir kota seperti ini membuat Summer ingin singgah di bangunan tua ini. Sebelumnya dia tidak pernah melihat ada perpustakaan tua yang berdiri di pinggir kota selama dia hidup di Inggris, entah dia yang tidak peduli dengan sekelilingnya atau bangunan ini yang tiba-tiba ada. Entahlah. Semua terasa aneh setidaknya untuk perpustakaan tua ini. Summer berdiri kepalanya terus mendongak untuk melihat seberapa tinggi rak rak buku yang besar terbuat dari papan dengan kayu yang kuat. Suasana di sini terasa sedikit membuat Summer takut, perpustakaan yang sepi dan kosong tanpa pengunjung. Dan penjaga perpustakaan kakek tua tadi pun entah kemana karena sangking luasnya perpustakaan ini mungkin bisa untuk Summer gunakan dengan temannya untuk bermain petak umpet. Terlihat buku tua yang tersusun rapi berjejer di rak, jemari Summer mulai menyentuh pelan buku-buju yang sedikit berdebu tersebut. Bermacam macam judul buku yang ada mulai dari kisah Monalisa, buku silsilah keturunan Kerajaan Inggris, Harry Potter, Summer Mackley Granger, dan lain lain.

Tunggu dulu.

Summer Mackley Granger ?

Itu buku dengan judul nama Summer. Kerutan tercipta di kening Summer kala apa yang terjadi sekarang ini adalah sesuatu yang aneh, buku dengan judul namanya sendiri. Hei, umur Summer baru tujuh belas tahun dan masa sudah tercatat dengan kisah setebal halaman buku ini. Summer berdecak kesal namun dia tetap ingin mencari tahu tentang buku namanya. Ya seperti itulah. Buku yang kini Summer pegang memiliki halaman yang tebal, berdebu, usang dan ya ampun......

Ini sungguh aneh.

Bahkan di depan buku itu terdapat fotonya sama persis seperti Summer yang sekarang. Summer mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan untuk mencari apakah ada orang yang bisa menyelamatkan dirinya yang lagi kebingungan. Tapi nyatanya tak sesuai harapan. Summer membersihkan sedikit deburan debu yang masih lengket di permukaan buku. Ketika akan membuka suara tua seseorang mengejutkan dirinya.

"Kau suka bukunya nak ? "

Itu pak tua penjaga perpustakaan tua ini. Dia orangtua dengan jenggot panjang dan putih yang tiba-tiba datang seperti hantu dan itu berhasil membuat Summer terkejut setengah mati.

"Ya ?" Summer merasa suara dan tangannya bergetar.

Pak tua tadi tertawa pelan tapi tak ngeri, dia memang terlihat seperti orang tua sungguhan pada umumnya bukannya hantu. Tapi kenapa alunan tawa kakek itu membuat Summer sedikit bergidik. Summer mengeratkan pegangannya pada buku 'namanya' tadi.

"Mau ku ceritakan sesuatu ?"

Dan Summer rasa dia akan terjebak dengan pak tua penjaga perpustakaan tua di perpustakaan ini. Masih dengan ia yang memegang buku 'namanya'.

Pak tua tadi mengambil alih buku 'namanya' dari tangan Summer. Summer merasa tidak rela namun ia biarkan saja entah-entah pak tua itu marah.

"Jadi... pak tu-- eh... maksud ku" Summer mendadak bingung harus memanggil apa, tiba-tiba saja ingin memanggil pak tua.

Pak tua tersenyum "panggil aku Mr. Albus"

Summer mengernyit "nama anda seperti nama kepala sekolah Hogwart
di film Harry Potter. Kau tahu ? Prof. Albus Dumbledore" tapi reaksi pak tua eh--- maksudnya Mr. Albus tadi hanya tertawa ringan.

".....ah, anda pasti tidak tahu" Summer tersenyum cerah " Harry Potter. Itu film yang lagi terkenal pada tahun 2000-2001, film yang benar-benar hebat sekali...." Summer rasa dia kembali membawa tabiat aslinya, berceloteh dengan orang tak dikenal. Mr Albus mengangguk melihat bagaimana Summer bercerita, dia hanya diam dan menyaksikan seorang keturunan yang sangat ia kenal. Summer Mackley Granger.

Summer menghembus napas pelan "Maaf ya pak aku terlalu banyak cerita. " Summer terkekeh " habisnya setiap kali menceritakan film Harry Potter itu membuat ku merasa semangat dan tak pernah bosannya... aku seperti hidup di dalam cerita itu" Imbuh Summer lanjutnya.

Mr. Albus mengangkat suara " Kau seorang gadis yang hebat nak, sama seperti Ibu mu" Mr. Albus mengelus pelan buku 'namanya'

Summer merinding ketika mendengar kata 'ibu'. Sosok perempuan yang selalu ia rindukan namun Summer tak mengenali wajah orangtuanya. Karena tidak ada jejak yang ditinggal oleh kedua orang tua Summer setidaknya foto mereka agar Summer bisa mengenang wajah mereka berdua di dalam ingatan bukannya menerka-nerka seperti apa wajah Ibu dan Ayah. Dia yang notabene-nya anak kandung orang tuanya tidak tahu tapi Mr. Albus ini mengetahui Ibunya, apakah pak tua itu teman lama Ibu Summer ?

"Maaf ? Anda mengenal Ibu ku ?" Summer bertanya dengan nada pelan. Mr. Albus tahu kalau anak di hadapannya ini akan bertanya. Dia memang mirip seperti Ibunya, Hermione Granger.

" Ya, aku mengenal Ibu mu" jawab Mr. Albus seadanya dan itu mengundang keingintahuan Summer

"...... dan dia bahkan ada di dalam dirimu sekarang, Summer" Mr. Albus menatap Summer sangat dalam mengantarkan keyakinan bahwa apa yang dia barusan bilang adalah kebenaran agar Summer bisa tahu jalan dan takdir gadis itu yang sebenarnya. Summer tak mengerti, Sosok Ibunya ada berada di dalam diri Summer ? Alih-alih salah paham maksud Mr. Albus, Summer dengan otak yang masih tersimpan di kepala meraba-raba seluruh tubuh bermaksud untuk mencari sang Ibu.

Mr. Albus melantunkan tawa khas bapak-bapak tua yang menertawakan cucunya. Summer memang anak yang lucu seperti Hermione. Mr. Albus menggeleng lalu perhatiannya beralih pada buku yang ia pegang.

Summer pura-pura menatap kesal ke arah Mr. Albus " Anda berbohong. Katanya Ibu ku berada dalam diriku"

Mr. Albus menunjukkan foto yang ada didepan cover buku Summer Mackley Granger. " Ini adalah Ibu mu" ujar Mr. Albus.

Summer memandang foto itu dengan tatapan tak percaya, mendiang Ibunya benar-benar mirip dengan dirinya yang sekarang. Tapi kenapa judul buku ini adalah nama kepanjangan Summer sendiri ?.

" Sudah ku bilang kan kalau kau mirip dengan ibu mu ?" Summer mengangguk mengiyakan ucapan Mr. Albus barusan. Summer bergumam kata Ibu dalan hati, jemarinya yang kecil menyentuh pelan foto mendiang Ibu.

" Hermione Granger" gumam Summer sangat pelan.

                        TBC






Say Hai From Me


Assalammualaikum. Wr. Wb dan salam sejahtera bagi semua EXO-L di dunia.

Keknya udah bertahun-tahun aku gak lagi pakai ni Blog. Karena rasanya bosan, selain itu aku lebih suka ngunjungin blog orang hehe 😁....

Temen-temen sekarang lebih suka makai atau ngunjungin blog yang berwujud wordpress, selain tu blog ramah jaringannya, wordpress lebih memuat halaman dengan ruang yang kecil tidak seperti Blogger. Meskipun begitu, setelah sekian lama hiatus dari dunia Blogger padahal aku belum ngepost apapun sebelumnya tapi ada secercah semangat ketika akan mengunjungi ni blog lagi. Catatan untuk EXO-L ni blog khusus untuk EXO-L tercinta dikarenakan gue emang dari golongan itu biasanya gue lebih suka gunain blog untuk publish cerpen atau fanfiction.

Dan kesempatan itu akan gue gunain meskipun yah..... Sedikit orang yang mampir di blog gue. Gur akan usahain promote sebesar-besar di kalangan cerpeners, EXO-L, writer, dan apalah itu.

Doa akan selalu menyertai hambanya yang sedang ingin berusaha-- Just Like me 😆😊

Doa in ajah semoga blog ni jadi aktif, kreatif dan inovatif yaaa!! Oke, sekian arigatoooo, gamsahmnida and Terima kasih 😘